up to me
UP TO ME
Senin, 22 Januari 2018
Minggu, 15 Oktober 2017
titanic lagi
Lambaian tangan pagi itu, dari orang-orang sauthampon mengiringi kapal baja yang super mewah dan fantastis meninggalkan inggris, berlayar menuju Amerika serikat membawa harapan baru pula, hidup baru, pekerjaan baru, alamat baru, dan mimpi-mimpi baru,
semuanya terasa lebiih cepat dan nyaman, tidak masalah penumpang kelas 3 harus berdesak-desakkan dikamar mandi, mereka menanti awan cerah menaungi langkahnya seiring bersentuhannya ujung titanic pada bumi Amerika.
tidur yang nyenyak dan mendebakan harus terhenti dengan kasar, pasalnya kurang dari 6 jam lagi, harusnya mereka sudah akan sampai, namun tanya tanya mengapa ini? ada apa ini? hanya dijawab dengan pemberian pelampung.
para ibu ketakutan, tangisan anak kecil dimana-mana, tatapan pilu para ayah seakan tau bahwa kini semua mimpi akan berahir di air dingin ini. Mr. Andrews mengatakan kurang dari 2 jam lagi, kita sudah berada di DASAR atlantik, kapten Smith dengan peluh putus asa memilih diam di kemudi dan menunggu apa yang sudah diterkanya terjadi, peraturan sebagai kapten pengemudi menjerat dadanya " jika kapal tenggelam, maka kapten pun turut bersamanya.
dilain sisi tuan Murdoch begitu sibuk mengatur para penumpang yang seakan kesetanan untuk mendapat jatah hidup, jatah sekoci maksud saya, dan benar , pada malam itu, hidup mati seseorang berada di tangannya. sebab ia yang berteriak, perempuan dan anak-anak naik lebih dahulu dan menjadi prioritas utama.
sehingga istri berpusah dari suami, anak berpisah ari ayah. sampai seorang anak kecil yang separuh badannya berada di sekoci, menangis keras dan berteriak karena ayahnya belum masuk, dan ayah nya dengan penuh ketenangan dan mampu menguasai dirinya bersahut " ini sekoci untuk para ibu dan anak, sekoci untuk para ayah sebntar lagi menyusul "
kini bangkai perhiasan dunia abad 20 itu telah karam dan menyatu dengan dasar atlantik yang gelap. setiap hari terus dimakan oleh cacing pemakan besi dan... ilmuan mengatakan mungkin 2030 nanti titanic benar-benar sudah tidak ada dan menjadi santapan para cacing dan bakteri.
tapi kisah para penumpangg titanic layaknya tidak untuk dilupakan, mereka yang telah menyatu pada atlantik,
bahkan untuk kisah fiksi yang james cameroon buat,..
Minggu, 01 Januari 2017
Berhiijab... Haruskah Aku Sempurna Dulu?
Sudah mengakar pada kebiasan kita bahwa syarat mengenakan pakaian kemuliaan yang Allah dan RasulNya tetapkan pada muslimah-muslimah ialah harus baik meliputi akhlak maupun moral yang dipandang secara kebiasaan maupun syari’at.
Tidak salah yang semacam itu, toh risih dipandang mata jika akhwat berhijab tapi mencuri misalnya. Tapi mengingat suatu hal yang membuat saya pribadi tidak terlalu mengiyakan konsep pemikiran diatas, ialah saat saya mendengar sebuah kajian yang menuturkan bagaimana bahkan, muslimah-muslimah terbaik disisi Rasulullah bersikap.
Ibunda kita Hafsah radiallahu anha misalnya, beliau adalah pendamping hidup Rasulullah, putri dari sahabat yang salah satu namanya Rasulullah sumpahkan dijamin masuk syurga. Dengan segala kemuliaan beliau, ibunda kita Hafsah tetap saja seorang manusia biasa, yang jika beliau tertawa maka tertawa terbahak-bahak yang mengucur dari lisannya, persis sebagaimana ayahnya sayyidina Umar bin Khattab tertawa.Baguskah dipandang mata jika seorang akhwat yang berada sisilah nasab baik, berumah tangga dengan dengan manusia terbaik pula jika tertawa terbahak-bahak, sedang beliau berhijab?
Lalu siapa yang tidak mengenal ibunda kita Aisyah, istri yang amat Rasulullah cintai, menyandang gelar Humairah dari sang penghulu segala kebaikan, yang dirinya hadir dimimpi rasulullah, ,berkakakkan Asma (pemilik dua ikat pinggang) berpabak ibukan sayyidina Abu Bakar assiddiq dan ummu ruman. Beliau adalah ummul mukminin.
Ibunda kita Aisyah, dengan segala kepandaiannya, kecantikannya dan kemuliaannya, pernah berujar kepada Rasulullah “ engkau hanya mengaku-ngaku sebagai nabi “, bertutur pula dengan mengatakan “ pendek” pada salah satu istri Rasulullah yang lainnya.
Istri Rasulullah yang sangat pencemburu, dan memang demikian adanya, namun beliau berhijab bukan?
Ummu Sulaim, lalu siapa pula yang tidak mengenal beliau radiallahu anha. Pemilik mahar termulia, dari rahimnya lahir seorang sayyidina Anas bin Malik, periwayat hadis terbanyak, bayang-bayang Rasulullah. Ummu Sulaim, yang ketika beliau hendak dipersunting Abu Thalhah yang masih kafir, beliau berkata “ wahai Abu Thalhah, aku tidak punya alasan untuk menolakmu, engkau rupawan,mapan, kedudukan sosial mu terpandang, hanyasanya engkau kafir dan aku bertauhid, sekiranya engkau ingin masuk agama Muhammad, maka tak perlu mahar apapun yang kuminta selain daripada keislamanmu “
Ummu Sulaim sangat menomor satukan tauhid diatas segalanya. Namun siapa sangka, Ummu Sulaim selalu membawa belati kecill disakunya. Maka yang pertama kali terbesit dipikiran kita ialah, “ wah, muslimah kok bawa gituan sih? Untuk melindungi diri sih iya, tapi kan ekstrim gitu, kan jadi horror..” . Dan tidak lupa mencantumkan bahwa beliau adalah seorang yang berhijab.
Akhlak ialah identitas tiap yang hidup dan berakal untuk membedakan watak, perilaku, tiap manusia. Maka karena ia sebagai identitas bawaan dari lahir maka sulit diubah walau memang bisa diubah.
Kembali lagi keatas, saya mengutip potongan-potongan cerita beliau radiallahu anhunna tanpa mengurangi kemuliaan mereka.Setiap akhir paragraph saya tutup dengan kata “ sedang beliau berhijab “
Ibunda kita Hafsah dengan tertawa terbahak-bahaknya,
Ibunda kita Aisyah dengan sifat super pencemburunya,
Ummu sulaim dengan belati kecilnya yang senantiasa terselip setiap hendak keluar rumah
Dengan segala sifat manusiawinya, apakah mereka menanggalkan hijab?
Apakah mereka baru akan berhijab setelah akhlak bagus?
Lalu jika menunggu akhlak bagus, sampai kapan?
Ternyata memang benar, islam bukanlah agama yang menyulitkan ummatnya. Bahwa hijab adalah kewajiban, dan kewajiban terlepas apakah ia berakhlak mahmudah atau berakhlak mazmumah.
Jika ada seorang pencuri, apakah ia masih wajib sholat? Tentu , tidak gugur kewajibannya
Lalu apa bedanya pencuri yang berhijab, apakah ia harus tanggalkan hijabnya atau tetap tidak menggugurkan nya? Tentu masih wajib memakainya,
Lalu, jelek dong dipandang orang..
Ya memang benar, buruk dimata khalayak, lalu bagaimana?
Beliau radiallahu anhunna tidak mengubah sifatnya KECUALI menempatkan pada tempatnya.
Ini adalah kata kunci dari setiap tanya kita. Tidak perlu dihilangkan karena perilaku kita adalah bawaan dari lahir, hanya perlu menempatkan pada tempatnya.
Lalu, jangan anda mengambil kesimpulan bahwa biarlah saya mencuri , tidak pengaruh pada hijabku, biarlah saya maksiat, tidak pengaruh pada hijabku, kan tinggal ditempatkan pada tempatnya, bukan harus dihilangkan
Yang demikian itu, memang harus dibumihanguskan dari diri kita. Dan tentunya pembaca pasti paham mana saja sifat tercela yang harus dihilangkan, dan mana sifat manusiawi yang tidak sampai menggugurkan kewajiban hijab.
Kembali ke pertanyaan judul postingan ini,
Berhiijab... Haruskah Aku Sempurna Dulu?
Jawabanya TIDAK.
Karena kesempurnaan tidak menunggu izin maut.
Alhamdulillah, semoga bermanfaat,
Langganan:
Postingan (Atom)